M Farez


Hanya lima (5) buah sajak akan diletakkan di laman ini dan ditambah-ganti dari semasa ke semasa. Sebarang pemberian dana/sumbangan dari khalayak pembaca amatlah dialu-alukan. Sumbangan boleh disalurkan ke akaun di bawah. Terima kasih.

CIMB BANK BERHAD
7004313325


#12
PESONA HIDUNG

Bagaimana kalau
hidunglah yang lebih mempesona?
(bukan lagi mata)
sebagai lohong ke jiwa
bukit kecil yang mengembang ghairah
di situ nafas tercungap
dada kembang kempis
surat cinta diposlaju masuk ke paru-paru
busuk-wangi bukannya apa-apa
kerna mata itu biasa buta
hidung pula rongga nyawa
—untuk hidup.


#11
SETELAH TIDUR

Setelah tidur
ada yang terbangun dalam kebisingan
ada yang bangun dalam rusuh resah
ada yang bangun dalam nikmat tak terungkap

setelah tidur
seribu malaikat turun ke ubun-ubun
bidadari menghembus goda ke telinga
setan menari-nari di atas dada
—tuhan ada seada-Nya

setelah tidur
anak-anak nyenyak saja
teruna dara pejam celik mata
pasangan kekasih merangkul hangatnya
orang-orang tua bangun sepertiga

setelah terjaga (beberapa ketika)
kami kembali menarik gebar
untuk menganyam cerita
untuk melorek adegan di telapakan.


#10
MUNAJAT KE LURAH

Tuhan kami
adakala doa-doa kami
tidak dipanjatkan ke langit
ia turun ke lembah
dipukau ayat-ayat-Mu
perihal kejelitaan bidadari perawan
yang membangun ghairah nafsu
kami diperingatkan
perlu dikekang untuk diraih
kami dengar, dan kami berjuang—deminya.


#9
KE HADAPAN KAMU

ke hadapan kamu di barisan depan
menyelamatkan nafas lelah mengah
menyelimuti jiwa, menyuap lega
ke mulut insan lapar dan dahaga
biar sejuta tombak nista menyerangmu
atau dibelenggu kabut runsing
tak perlu kamu gusar
kamu adalah hujan di kala kemarau
kamu adalah sungai yang menyucikan
kamulah ibu yang memberi susu
kamu itu bapa yang menyeka nestapa
kamu si anak yang dibanggakan emak ayah
dan moyang-moyang terdahulu
bukankah mereka mewariskanmu
abjad-abjad rahman dan rahim?

kamu mengulang bacaan di rehal
hingga kata larut di rasa.


#8
AMUKAN KEKASIH

dari matra yang tak dapat dihurai
senandung hening meniup ke indera
seperti wabak siluman
perihnya mengasak dada
kau melihat manusia
lagak mengadap cermin-cermin retak
dalam labirin seribu keliru
engkau menyeka pilu
kauhiris satu senyuman
lalu meradak badik derhaka ke jantung tuan

usai melantunkan ayat-ayat asing dari kitab usang
kau menyarung topeng suci itu
untuk korbankan dosa atas nama nasuha
mampus maka kaubunuh semuanya

darah perawan pun mengalir
dari rekah bibirmu.


JudulTahunISBN
Ada di Dada (Himpunan anekdot & cerpen)2011978-967-10288-0-3
Ajarkan Kami Berpuisi (Antologi Sajak)2011978-967-10288-1-0
Nuzentara2013978-967-11967-0-0
Trisula Kata dari Daerah M (Antologi Sajak)2014978-967-11967-5-5
Se: kelumit kalimat2019zine